Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Mei 2013

FOTO CIREBON TEMPO DULU DAN SEKARANG

IR. BAMBANG SUTRISNO



         Gedung Bank Indonesia Tempo Dulu                     Gedung Bank Indonesia Sekarang        

                 Gedung Bank Indonesia Sekarang                            Gedung Bank Indonesia Sekarang

GEDUNG BANK INDONESIA 1866 CIREBON
 Kantor De Javasche Bank (DJB) Cabang Cirebon dibuka pada tanggal 31 Juli 1866 dan baru beroprasi pada tanggal 06 Agustus 1866 dengan nama "Agentschap Van De Javasche Bank te Cheribon", pembukaan kantor cabang ini berdasarkan surat keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda No, 63 Tanggal 31 Juli 1866, merupakan kantor cabang yang kelima.
Empat kantor cabang yang telah dibuka terlebih dahulu yaitu: Semarang, Surabaya, Padang dan Makasar,
P.J. Janssens, Notaris di Cirebon ditunjuk sebagai pimpinan Kantor Cabang Cirebon pertama. Setiap tahun, P.J. Janssens memperoleh imbalan 25 % dari laba bersih minimal f 1.200. Dan sebagai komisaris dan wakil komisaris kantor cabang tersebut diangkat J.W. Peter Pemimpin Cabang Factor der Nederlansche Handel Maatschappij (kini menjadi BEII sebelum bergabung dengan Bank Mandiri) dan P. van Waasdjik. Peletakan batu pertama pembangunan gedung Kantor Cabang Cirebon yang terletak di Kampong Tjangkol No.5, dilakukan pada tanggal 21 September 1919 oleh Jan Marianus Gerritzen (anak Direktur M.J. Gerritzen). Perencanaan arsitektur gedung kantor tersebut dilakukan oleh Biro Arsitek F.D. Cuypers & Hulswit. Gedung ini selesai dibangun dan digunakan pada tanggal 22 Maret 1921. Dari catatan sejarah gedung ini dari awal hingga sekarang yang menjadi gedung Bank Indonesia tetap pada lokasi tersebut dan merupakan satu-satunya gedung Kantor Bank Indonesia yang hanya mempunyai satu kubah, sehingga tampak lebih ramping.
Gedung Bank Indonesia Cirebon, perencanaan arsitektur gedung yang sekarang menjadi bagian dari Gedung Bank Indonesia Cirebon itu dilakukan oleh Biro Arsitek F.D. Cuypers & Hulswit.gedung BI Cirebon ini kabar2nya adalah stu2nya gedung BI di Indonesia yang memiliki satu kubah
Alamat : Jl. Yos Sudarso No. 5-7, Cirebon


 Vila Karang Anom Karanggetas 1920 (ExKorem)

 Villa Anom Sekarang Menjadi Mall Yogya Grand

VILLA KARANG ANOM KARANGGETAS 1920
Rumah ini yang indah, atau lebih baik disebut villa ini, terletak di "Jalan Karanggetas No. 64". Gedung ini dinamakan "KARANG ANOM" karena letaknya didaerah karang. Villa ini dibangun sekitar tahun 1880an oleh mayor Tan Tjin Kie (1853-1919) untuk putrinya Tan Holy Bio yang tinggal disana bersama suaminya Kwee Tjong In yang berasal dari Kediri. Keluarga ini punya 9 anak. Mereka punya bisnis konglomerasi dan pada masa resesi 1920-an tidak bisa membayar pajak kepada Hindia Belanda. Sebagai bayarannya pemerintah mengambil antara lain Villa Karang Anom. Lalu villa ini dijadikan hotel namanya Hotel Kanton. Setelah tahun 1950an gedungnya disebut "Resimen" karena dipakai Markas Komando Resor Militer. Lalu gedungnya sering dibuat acara pameran pas ulang tahun kota Cirebon. Sekarang sudah diruntuhkan dan dibekas tempat berdirinya dibangun shopping mall Yogya.


Balai Kota Cirebon Tempo Dulu

 Balai Kota Cirebon Sekarang

Balai Kota Cirebon Sekarang
 
Pembangunan Balaikota Cirebon 1927


Didesain oleh arsitek J.J. Jiskoot, tahun 1927
Balai Kota (Raadhuis), atau Balai Udang sebagaimana disebutnya oleh rakyat, dibangun pada tahun 1927 dalam gaya arsitektur Art Deco berdasarkan karya J.J. Jiskoot, Kepala Dinas PU Cirebon pada tahun 1927. Delapan ekor udang yang merayap di kedua "menara" nya menegaskan riwayat Cirebon sebagai kota udang. kabarnya, di basement gedung balai kota Cirebon ini terdapat terowongan yang terhubung sampai ke Pelabuhan Muara Jati Cirebon, siasat Belanda untuk melarikan diri ketika terjadi penyerangan dari rakyat Cirebon. Kalau malam minggu depan Gedung Balai Kota sekarang ramai menjadi tempat kongkong anak muda mudi Kota Cirebon
Alamat : Jl. Siliwangi No. 84, Kamp. Tanda Barat, Kec. Kejaksan
 

 Gedung British American Tobacco (BAT) Cirebon

 Gedung British American Tobacco (BAT) Cirebon

 Gedung British American Tobacco (BAT) Cirebon

 Gedung British American Tobacco (BAT) Cirebon

Gedung British American Tobacco (BAT) Cirebon

Gedung BAT Cirebon yang mulai digunakan pada tahun 1924 ini dirancang oleh arsitek F.D. Cuypers & Hulswit bergaya Art Deco, sebuah gaya bangunan yang bermula pada awal 1920-an dan terus digunakan sampai setelah berakhirnya Perang Dunia II.
Alamat : Jl. Pasuketan, Kampung Kebumen, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk-Cirebon

 Stasiun Kejaksan Cirebon

 Stasiun Kejaksan Cirebon

 Stasiun Kejaksan Cirebon

 Stasiun Kejaksan Cirebon

 Stasiun Kejaksan Cirebon

Stasiun Kejaksan Cirebon

Gedung Stasiun Cirebon/Kejaksan pada saat dibangun pada tahun 1920, diprakarsai oleh seorang arsitek Pieter Adriaan Jacobus Moojen (1879–1955) dalam gaya arsitektur campuran art nouveau dengan art deco,Dua "menara"-nya yang sekarang ada tulisan CIREBON dulu ada tulisan KAARTJES (karcis) di sebelah kiri dan BAGAGE (bagasi) di sebelah kanan.
Alamat : Jl. Siliwangi, Kebonbaru, Kejaksan, Cirebon

 Pelabuhan Kota Cirebon

  Pelabuhan Kota Cirebon

 Pelabuhan Kota Cirebon

Pelabuhan Kota Cirebon

Sejak pertengahan kedua abad XIX pelabuhan Cirebon mengalami perkembangan yang pesat. Hal itu didorong oleh beberapa faktor, pertama, ditinjau dari segi geografis Cirebon merupakan pelabuhan yang strategis. Kedua, sejak tahun 1859 pelabuhan Cirebon dijadikan sebagai pelabuhan bebas dalam arti bukan hanya pemerin¬tah saja yang melakukan niaga di sini tetapi juga dari kalangan swasta. Ketiga, penanaman tanaman komersial berkembang pesat di pedalaman Cirebon terutama setelah pelaksanaan Tanam Paksa dan selanjutnya disusul sistem ekonomi liberal. Keempat, adanya pembangunan-pembangunan dan perbaikan-perbaikan yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial baik dari segi perangkat fisiknya seperti dermaga, pergudangan, tangul pemecah gelombang, pengerukan lumpur dan sebagainya, maupun dari segi managemennya. Pada awalnya pembangunan berbagai perangkat fisik maupun managemen lebih bersifat "asal jalan" saja. Sejalan dengan berkembangnya teknologi perkapalan yaitu semakin banyaknya kapal-kapal besar bermesin serta berkembangnya sistem managemen pelabuhan di Eropa pada awal abad XX yang memperlakukan pelabuhan sebagai perusahaan dagang, maka pemerintah Kolonial Belanda dalam membangun pelabuhan-pelabuhan di Hindia Belanda mulai berorientasi ke arah yang demikian itu. In the second half of 19th century and at the beginning of 20th century, Cirebon port grew so fast that it became the fourth biggest port in Java after Batavia, Surabaya, and Semarang. To analize the factors those caused this development, we used the historical method. This method has four steps: heuristic, critic, interpretation, and historiography. the development of Cirebon port was caused by several factors: first, geographically Cirebon port was strategi and favourable. This position became more important because the Cirebon inland produced many international commodities. Second, since 1859 the Dutch Colonial Government decided to make Cirebon port as a free port. This policy caused Cirebon port developed rapidly. Third, plantations developed in Cirebon inland aspecially in the time Cultuur Stelsel and Liberal System. Fourth, the development of Cirebon port in both export and import had encouraged the Dutch Colonial Goverment to develop this port both phisically and managerially. 

 Kantor Pos Cirebon Tempo Dulu

 Kantor Pos Cirebon

Kantor Pos Cirebon

 Gua Sunyaragi Cirebon

 Gua Sunyaragi Cirebon

Gua Sunyaragi Cirebon

 Gedung Negara Tangkil Cirebon

 Gedung Karesidenan Tangkil Cirebon

Gedung Negara Tangkil Cirebon

Gedung Negara Cirebon ini konon dibangun pada tahun 1865, namun tidak begitu jelas siapa arsitek yang merancangnya. Gedung Negara Cirebon sebelumnya adalah Cheribon Residentswoning atau kantor Karesidenan Cirebon.
Alamat : Bundaran Krucuk

 Alun-alun Kejaksan Tempo Dulu

 Prapatan Alun-alun Kejaksan

 Alun-alun Kejaksan Tempo Dulu

 Stasiun Perujakan Cirebon Tempo Dulu

 Stasiun Perujakan Cirebon

 Sekarang Rumah Sakit Gunung Jati

 Gedung Orange Hospital Tempo Dulu (RSUDGJ)

Gedung Orange Hospital Tempo Dulu (RSUDGJ)

 Gedung Bank Mandiri Cirebon Sekarang

Gedung Bank Mandiri Cirebon Tempo Dulu

 Gedung Lanal Cirebon Tempo Dulu


Gedung Lanal Cirebon

 




Selasa, 05 Februari 2013

Cerita Musso, tokoh PKI yang ternyata anak kiai besar

IR. BAMBANG SUTRISNO


Temuan baru muncul mengungkap siapa sebenarnya Musso atau Munawar Musso alias Paul Mussote (nama ini tertulis dalam novel fiksi Pacar Merah Indonesia karya Matu Mona), tokoh komunis Indonesia yang memimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) pada era 1920-an. Nama Musso terus berkibar hingga pemberontakan Madiun 1948.

Musso dilahirkan di Kediri, Jawa Timur 1897. Sering disebut-sebut, Musso adalah anak dari Mas Martoredjo, pegawai kantoran di Kediri. Penelusuran merdeka.com mengungkap cerita lain, bahwa Musso ternyata putra seorang kiai besar di daerah Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kiai besar itu adalah KH Hasan Muhyi alias Rono Wijoyo, seorang pelarian pasukan Diponegoro.

Kabar bahwa Musso diragukan sebagai anak Mas Martoredjo muncul dari informasi awal Ning Neyla Muna (28), keluarga Ponpes Kapurejo, Pagu, Kediri yang menyebut Musso itu adalah keluarga mereka.

Sulit untuk dipercayai, jika Musso anak pegawai kantoran biasa di desa, bisa menjadi pengikut Stalin dan fasih berbahasa Rusia. Bahkan untuk berteman dengan Stalin dan bisa melakukan aktivitasnya yang menjelajah antarnegara hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kaya di masa itu.

Kalau bukan anak orang berpengaruh, sulit pula baginya menjadi pengurus Sarekat Islam pimpinan H.O.S Tjokroaminoto. Selain di Sarekat Islam, Musso juga aktif di ISDV (Indische Sociaal-Democratishce Vereeniging atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda).

Saat di Surabaya Musso pernah kos di Jl. Peneleh VII No. 29-31 rumah milik HOS Tjokroaminoto, guru sekaligus bapak kosnya. Selain Musso di rumah kos itu juga ada Soekarno, Alimin, Semaun, dan Kartosuwiryo.

Musso, Alimin, dan Semaun dikenal sebagai tokoh kiri Indonesia. Sedangkan nama yang terakhir, menjelma menjadi tokoh Darul Islam, ekstrem kanan. Mereka dicatat dalam sejarah perjalanan revolusi di Indonesia.

Saat kos itu, Musso menjadi salah seorang sumber ilmu Bung Karno dalam setiap percakapan. Seperti misalnya saat Musso menyoal penjajahan Belanda, "Penjajahan ini membuat kita menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa."

Merdeka.com menemui KH Mohammad Hamdan Ibiq, pengasuh Ponpes Kapurejo, Pagu Kediri untuk bertanya tentang siapa Musso. "Saya hanya mengetahui Musso memang keluarga besar Ponpes Kapurejo, namun yang paham itu adalah KH Muqtafa, paman kami. Yang saya pahami Musso itu anak gawan (bawaan), jadi saat KH Hasan Muhyi menikahi Nyai Juru, Nyai Juru sudah memiliki putra salah satunya Musso. Makam keduanya berada di komplek Pondok Pesantren Kapurejo," kata Gus Ibiq paggilan akrab KH Hamdan Ibiq, akhir bulan lalu.

Penelusuran dilanjutkan ke rumah KH Muqtafa di Desa Mukuh, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri. Tiba di rumah KH Muqtafa, si empunya rumah tampak sedang asyik mutholaah kitab kuning (membaca dan memahami kitab kuning) tepat di depan pintu rumahnya.

Setelah mengucapkan salam dan dijawab, kemudian Kyai Tafa mempersilakan masuk. Rumah lelaki pensiunan pegawai Departemen Agama ini tampak asri, tembok warna putih dan ada bagian gebyog kayu jati yang menandakan pemiliknya orang lama. Ditambah beberapa hiasan kaligrafi Arab yang ditulis dengan indah menempel di antara dinding rumahnya. Selanjutnya Kiai Tafa masuk ke rumah induk dan berganti pakaian yang semata-mata dia lakukan untuk menghormati tamunya.

Lima menit berlalu, Kiai Tafa keluar dan menanyakan maksud kedatangan. Sebelumnya lelaki yang sudah tampak uzur ini menyatakan meski keturunan keluarga pesantren, dia tak memiliki santri. Sebab dia harus menjadi pegawai negeri dan berpindah-pindah tempat.

"Mau bagaimana lagi memang harus seperti itu," kata Kiai Tafa membuka perbincangan.

Setelah mengutarakan maksud dan tujuan untuk mengetahui sejarah Ponpes Kapurejo, kemudian penuh semangat, Kiai Tafa menjelaskan secara gamblang dengan suara yang sangat berwibawa.

Belum membuka pembicaraan tentang Musso, merdeka.com hanya ingin mengetahui arah pembicaraannya seperti yang disampaikan Gus Ibiq, bahwa Kyai Tafa –lah yang menjadi kunci silsilah keluarga Pondok Pesantren, Kapurejo.

"KH Hasan Muhyi itu orang Mataram, sebenarnya namanya adalah Rono Wijoyo. Beliaulah pendiri Pondok Pesantren Kapurejo. Beliau menikah sebanyak tiga kali, istri pertamanya adalah Nyai Juru. Dari pernikahannya yang pertama itu KH Hasan Muhyi diberikan 12 putra. Dan maaf salah satunya mungkin orang mengenal dengan nama Musso," ujar Kiai Tafa yang sedikit canggung ketika menyebut nama Musso.

Meski canggung, Kiai Tafa kembali menegaskan itulah fakta sejarah. "Mau bagaimana lagi itulah fakta sejarah," tukasnya.


sumber: http://id.berita.yahoo.com/cerita-musso--tokoh-pki-yang-ternyata-anak-kiai-besar-054859100.html

Senin, 21 Januari 2013

Tjerita Tempoh Doeloe: Moeasal Balai Kota (Raadhuis) atawa Balai Udang Tjirebon

IR. BAMBANG SUTRISNO



Lambang Kota Tjirebon vertie Hindia Belanda

Peta Tjirebon Tjitakan Tempo Doeloe

Balai Kota (Raadhuis), atawa Balai Oedang sebageimana diseboetnja oleh masjarakat Tjirebon tempoh doeloe, dibangoen jaar 1927 dalam gaija architectuur Art Deco meroepaken karja cipta architectuur beken J.J. Jiskoot , jaang joega pada waktoe itoe dianja merangkap dinas sebagai Hoofdkantoor atawa Kepala Dinas Pekerdjaan Oemoem Tjirebon pada jaar 1927. Delapan ekor oedang jaang merajap di kedoea "menara" nja menegasken riwajat Tjirebon sebagai "kota oedang". Alamatnja sekarang ini Jl. Siliwangi No.84 Tjirebon, saat ini gedoeng terseboet diambil foengsi sebagei Mayors Office atawa Kantor Walikota en Poesat Pemerintahan Kota Tjirebon.

Landscaape ini meroepaken area sebeloem dibangoen Gedoeng Raadhuis Balai Oedang Tjirebon, tengoklah Goenoeng Tjiremai berdiri dengan gagah poen di achtergrond/latar belakang fotograaf

Procede perataan tanah en awal pembangoenan Gedoeng Raadhuis Balai Oedang Tjirebon

Seloeroeh tanah digali dalam dengan maksoed pembuatan stichting/pondasi secara merata di semoea dasar gedoeng

Pengetjoran stichting/pondasi jaang berlapijs2 (over layer ground) memboeat gedoeng ini loear biasa kokohnja

Pemboeatan stichting/pondasi bahagian sisi sekeliling gedoeng

Pondasi bahagian sisi gedoeng jaang moelai ditinggikan

Kontruktie moelai berdiri, perhatiken bageimana para ahli dahoeloe memboeat detijl

Procede garapan halaman moeka gedoeng, esthetiek jaang tinggi moelai ditrapken pada bahagian perbahagian gedoeng

Tengok bahagian belakang gedoeng dengan djalan masoek gedoeng jaang beloem digarap betoel

Dibelakangnja gedoeng ini sekitar jaar 50-60an dibangoen wooncomplex atawa komplek Pemerintah Daerah Kota oentoek kantoor aan huis atawa roemah Dinas anggota Brandweer atawa Pemadam Kebakaran Kota Tjirebon. Kakek saja adalah bertoegas sebagei Kepala Brandweer/Pemadam Kebakaran jaang pertama di Tjirebon, Keloearga saja joega tinggal disini semoea, Oewa dan Paman saja joega Pemadam Kebakaran en jaang tak terloepaken adalah saja joega dibesarken dilingkoengan ini.

Saja bangga adanja mendjadi keloearga "Fire Fighter" alias Brandweer, sehingga saja paham betoel bageimana soeka doeka dalam itoe menjandang pekerdjaan en toegas jaang poenja een hoog risico atawa resiko tinggi terseboet, dimana beliaoe2 adalah orang jaang berani menjaboeng njawa melawan si djago merah demi selamatken djiwa orang2 lain, tiada keloeh kesah dan soesah pajah walaoepoen dioepah oleh negorij ala kadarnja. Bahkan mereka tiadalah mengharap balas tanda djasa apapoen joea.

Tengok tampak bahagian samping kanan dengan djalan masoek soedah diaspalt

Djaranga ada pintoe seindah ini aesthetieknja, tampak seperti wadjah orang

Tampak bahagian depan secara keseloeroehan soedoet pandang

Inilah wadjah Balai Kota Tjirebon atawa Balai Oedang tempo kini

Lambang Kota Tjirebon Tempo Kini
 
Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=407966054472